Penjara 3 tahun Bapak Perdamaian:
Rinaldy Damanik
==============
Pdt Rinaldy Damanik adalah ketua Crisis Center GKST (Gereja Kristen
Sulawesi Tengah) yang mengumpulkan informasi sebab-musabab dan sejarah
kerusuhan di Poso. Salah satu kegiatan utama Crisis Center adalah
mengevakuasi (penyelamatan) orang Kristen yang terjebak di desa Muslim atau
orang Kristen yang menjadi korban kerusuhan, juga menolong warga Muslim
yang kebetulan perlu ditolong saat operasi evakuasi. Ia juga adalah
tokoh kunci yang ikut menandatangani Perjanjian damai Malino. Ia menjadi
tumbal atas carut-marutnya konflik agama dan politik di Indonesia.
Suatu hari dalam sebuah evakuasi, ia dan anak buahnya dicegat, disuruh
turun dari iringan kendaraan dan menjauh beberapa puluh meter, lalu
aparat melakukan penggeledahan. Setelah “penggeledahan” itulah aparat
“menemukan” senjata. Rombongan Damanik diijinkan meneruskan perjalanan. Tak
lama kemudian ia menjadi buron atas senjata temuan aparat tersebut.
Lewat proses penahanan, persidangan yang berat, akhirnya pengadilan
menjatuhkan vonis hukuman penjara 3 tahun dengan tuduhan bersalah membawa
senjata api. Padahal dalam sidang-sidangnya, para saksi memberi keterangan
yang berbeda satu sama lain.
Selama berbulan-bulan menjalani proses persidangan dan mendekam dalam
rumah tahanan, ia sempat keracunan di makanannya. Melihat
tanda-tandanya, istrinya sangat yakin bahwa ia sengaja diracun. Ia hampir mati.
Sebelum peristiwa itu terjadi ia sempat menolak sejumlah ajakan kompromi.
Dalam penjara ia tidak pernah mau anaknya cemas tentang dirinya melainkan
untuk pengungsi. Ia berkata,”Saya tidak menderita dalam penjara ini.
Mereka yang di pengungsian yang sangat menderita”. Ia juga berkata,”Di
dalam sini juga ditahan anggota-anggota Laskar ‘agama lain’ yang ketahuan
membawa senjata untuk penyerangan ke desa Kristen. Mereka bergaul baik
dengan saya dan menyatakan penyesalan dan meminta maaf pada saya atas
tindakan mereka selama ini yang sudah mengingkari nilai-nilai
kemanusiaan dan keTuhanan”.
Berikut beberapa judul tulisan kesaksian seputar Pdt Rinaldy Damanik
dan anaknya:
1. Kesaksian dan Seruan dari Balik Terali Besi (Pengalaman di balik
jeruji)
2. Puisi Pdt Rinaldy Damanik untuk Nanda (anaknya) Tercinta
3. Surat seorang Nanda (ungkapan hati Nanda dan kronologi singkat
penangkapan Rinaldy Damanik)
4. Wawancara dengan Nanda
5. Lirik lagu2 Nanda Damanik
KESAKSIAN DAN SERUAN DARI BALIK TERALI BESI
(Dalam kunjungan SM kesekian kali ke penjaranya, Rinaldy Damanik
menginginkan tulisannya ini bisa dibaca banyak orang dan menjadi pokok doa)
Di dalam kamar tahanan Mabes Polri Jakarta, Minggu subuh, 1 Desember
2002, saya baru bisa tertidur sekitar pukul 04.30WIB; setelah membaca dan
mengkoreksi kembali naskah buku Tragedi Kemanusiaan di Poso yang
sementara saya tulis.
Rasanya belum lama tertidur, saya terkejut dibangunkan oleh seorang
Pria yang tiba-tiba masuk ke kamar tahanan ini. Seingat saya, Pria
tersebut berseragam biru tua, berwajah putih bersih, berkacamata bening dan
menyandang senjata. Pria tersebut berkata: “Di koran ini ada tulisan
seorang hamba Tuhan. Silakan Bapak catat bagian yang diberi tanda merah.”
Saya tidak sempat berkata-kata, apalagi menanyakan maksudnya, dia sudah
pergi. Di dalamnya ada tulisan seorang hamba Tuhan. Memang ada kalimat
yang sudah ditandai dengan stabilo merah muda. Seperti ada sesuatu yang
mendorong, langsung saya mencatat kalimat-kalimat tersebut. Ketika
kalimat demi kalimat saya tuliskan, air mata saya bercucuran. Tiba-tiba
muncul kembali kerinduan yang luar biasa untuk segera pulang ke lingkungan
Gereja Kristen Sulawesi Tengah, bertemu dengan saudara-saudara saya
korban kerusuhan Poso. Pikiran dan hati saya seakan hampa. Sepi dan dingin
sekali rasanya. Tetapi tangan saya terus menulis.
Tulisan tersebut sebagai berikut:
Di satu pihak, ada (dan banyak) orang yang rela menjual kebenaran serta
harga diri, sekadar agar mampu terus mengapung -bahkan melambung- di
zaman dan rezim apapun. Namun sebaliknya, (walau sedikit) ada pula orang,
yang karena tak pernah rela melawan kebenaran serta pantang menghianati
hati nurani, maka walau zaman telah berganti zaman, terus saja hidupnya
merana, bagaikan domba di tengah-tengah serigala. Memang sulit. Sangat
sulit. Tapi anda jangan pernah gentar menghadapi kesulitan. Kesulitan
itu wajar. Di dunia ini, tidak ada jalan yang mudah dan sederhana untuk
mencapai tujuan yang mulia. Seperti tidak ada pula harga yang murah
untuk memperoleh sesuatu yang sungguh-sungguh berharga. Kesulitan adalah
sesuatu yang melekat pada kebenaran. Bagaikan getah dengan nangka, atau
bau pada durian. Tak mungkin terhindarkan.
Karena itu, betapa sulit dan mahal, kita tak punya pilihan lain. Kita
harus bersedia menebus “resep” yang mahal itu. Atau terpaksa mengucapkan
selamat tinggal kebenaran ! Para pencinta kebenaran harus berjuang
ekstra keras untuk menjadi manusia-manusia “berkemauan baja” dan sekaligus
“berhati kaca”. Berkemauan baja, artinya kokoh dan teguh dalam tekad
dan kemauan. Bisa saja dipatahkan seperti orang bisa memancung kepala
Yohanes Pembaptis. Tapi mustahil membengkokkan atau membelokkan
keyakinannya. Komitmennya kepada kebenaran adalah harga pas. Tanpa diskon.
Namun disamping berkemauan baja, seorang pencinta kebenaran mesti pula
berhati kaca. Artinya, dia bersih dari kepentingan dan agenda
tersembunyi, khususnya yang terkait dengan kepentingan sendiri. Ia jernih dan
bening bagai kaca. Transparan. Dan seperti kaca pula ia peka serta mudah
retak. Namun ini sama sekali bukan tanda kelemahan, melainkan justru
tanda kelebihan dan kekuatan. Hati seorang pencinta kebenaran adalah hati
yang mudah sekali tergetar, tergores, bahkan retak oleh hadirnya
ketidakbenaran serta kepalsuan di sekitarnya.
Karenanya, ia tidak bisa diam. Amat mungkin dalam banyak keadaan
mulutnya bungkam. Tapi hatinya tak bisa diam. Tak pernah bisa diam. Penuh
perlawanan.
Ketika saya selesai menuliskan kata terakhir, tiba-tiba Pria yang tadi
datang membawa koran tersebut, kembali masuk ke kamar tahanan saya.
Dengan cepat Dia mengambil koran tersebut. Dia berkata:”Sudah selesai. Pak
Pendeta boleh menangis tapi harus tetap kuat. Jangan tanya siapa Saya,
nanti akan tahu sendiri. Permisi!” Saya sempat berkata:”Pak…”. Tetapi
dengan cepat dia berkata:”Bapak jangan dulu keluar dari kamar. Ini
perintah!” Dia menutup pintu kamar dan pergi.
Suara itu terdengar tegas tapi lembut dan berwibawa. Saya heran, karena
Dia mengetahui secara persis bahwa saya telah selesai menulis kata
terakhir dari tulisan tersebut. Saya duduk di atas tempat tidur dan
mengamati kembali tulisan tersebut. Tanpa saya sadari, saya tertidur kembali
dan baru terbangun sekitar pukul 09.45 WIB. Ketika saya keluar dari
kamar tahanan saya bertanya kepada seorang tahanan bernama Boy, yang selalu
tidur di lorong dekat pintu kamar tahanan saya. Saya juga bertanya
kepada beberapa tahanan yang lain. Tetapi tidak seorangpun yang melihat
Pria yang masuk ke kamar tahanan saya. Memang ada sejumlah aparat dari
kesatuan Gegana di ruang tamu yang sementara menjaga Imam Samudra,
tersangka kasus bom Bali. Tetapi tidak seorangpun yang berciri-ciri seperti
aparat tersebut di atas. Seorang penjata tahanan mengatakan bahwa aparat
atau siapapun tidak boleh membawa senjata masuk ke kamar tahanan dan
tidak ada yang memakai kacamata bening.
Saya tidak memperoleh jawaban pasti dan berhenti mempersoalkannya,
karena tidak ingin mengusik ketenangan para tahanan. Saya simpan peristiwa
itu di dalam hati dan saya renungkan.
Beberapa hari kemudian, Jumat 6 Desember 2002, saya kembali tersentak.
Di ruang olah raga tahanan, dua orang aparat Gegana bercerita kepada
kami para tahanan bahwa Imam Samudra bertanya kepada mereka mengenai
seorang Pria aparat yang datang dan berbicara dengan dia. Menurut Imam
Samudra, aparat tersebut pintar, lembut, berwajah putih bersih dan
berkacamata bening. Tetapi Imam Samudra tidak menceritakan isi percakapan
mereka. Kedua orang aparat Gegana tersebut terkejut heran ketika saya
menceritakan peristiwa yang saya alami, apalagi ciri-ciri aparat yang datang
ke kamar tahanan saya, sama persis dengan yang datang dan berbicara
dengan Imam Samudra. Tetapi mereka juga mengatakan bahwa tidak ada
kesatuan Gegana yang berciri-ciri seperti itu.
Saya sangat ingin mengetahui isi percakapan Imam Samudra dengan aparat
misterius tersebut. Tetapi sore harinya, tiba-tiba Imam Samudra
diterbangkan ke Bali untuk proses hukum yang harus dihadapinya. Kami hanya
sempat berjabatan tangan dan saya mengucapkan selamat jalan, karena
beberapa hari sebelum peristiwa misterius tersebut, kami pernah bertegur
sapa.
Surat ini sudah terlalu panjang. Tetapi ada beberapa hal yang perlu
kita renungkan bersama. Peristiwa yang saya alami terjadi pada hari
Minggu, yaitu hari umat Kristen beribadah jemaat dan tepat pada Minggu Advent
yang pertama sebelum Natal. Peristiwa yang dialami Imam Samudra terjadi
pada hari Jumat, yaitu hari sembahyang berjamaah umat Islam dan tepat
pada Hari Raya Idul Fitri.
Siapa Pria misterius itu? Saya merenungkan peristiwa itu di dalam
ucapan syukur kepada Tuhan. Bagi saya, peristiwa dan substansi tulisan
tersebut merupakan peringatan keras dan kekuatan untuk instropeksi diri,
serta keteguhan tekad untuk mengayunkan langkah berikutnya.
Tidak akan pernah ada lagi kata mundur dari pelayanan! Kita harus
bersatu teguh menyatakan kebenaran! Berhentilah saling mempersalahkan satu
dengan yang lain. Berhentilah semua bentuk pementingan diri sendiri,
keluarga, kelompok dan denominasi. Berhentilah semua perbuatan tercela,
mabuk, selingkuh, menyebar fitnah, iri dan dengki, korupsi, dan
sebagainya. Berhentilah semua tindakan kekerasan. Berhentilah tutur kata dan
sikap yang terkesan memperebutkan kewibawaan, kehormatan dan simpati di
atas singgasana. Berhentilah mencari kekayaan, fasilitas dan keuntungan
dari penderitaan orang lain.
Sebab, bagaimana mungkin kita dapat memperjuangkan keadilan dan
kebenaran jika di tubuh kita sendiri masih dinodai oleh ketidakadilan dan
ketidakbenaran? Hadir dan bertindaklah secara nyata dengan penuh kerendahan
hati di tengah-tengah penderitaan masyarakat. Beranilah menyatakan
kebenaran meskipun mengalami resiko seperti Yohanes Pembaptis yang
dipenjarakan dan kepalanya dipenggal karena kritik kerasnya terhadap kebobrokan
moralitas pemerintahan raja Herodes. Bersama-sama kita mengintrospeksi
diri dalam pengakuan yang tulus dan jujur kepada Tuhan. Kita mantapkan
tekad untuk memperbaharui diri dalam tindakan nyata.
Karena itu, kita harus mempunyai komitmen bahwa kita tidak akan pernah
dan tidak akan bisa pindah ke lain hati. Karena itu, berakhirlah semua
senyum dan tawa yang hanya sekedar pelengkap sempurnanya sebuah
sandiwara iman. Tuhan hadir dan mengetahui semua detik-detik peristiwa
kehidupan. Tuhan adalah kebenaran sejati dan abadi. Tuhan maha pengampun.
Tuhan menganugerahkan damai yang memberi kemampuan dahsyat kepada kita
untuk menghadapi berbagai kemelut dan tantangan.
PUISI RINALDY DAMANIK UNTUK NANDA
Ketika aku memutuskan pergi, kau sementara terbaring sakit. Kini, aku
ingin memberimu sesuatu yang pasti dapat kau lakukan Jika kau harus
menangis karena diriku, berikanlah air matamu untuk saudara-saudaramu di
pengungsian.
* Jika kau rindu menatapku,
lihatlah diriku dalam kakak-kakakmu korban kerusuhan yang sangat
kukenal dan kucintai itu.
* Jika kau rindu memelukku,
kau dapat selalu memelukku dengan mengulurkan tanganmu untuk membelai
anak-anak pengungsian yang merindukan kebebasan tidur, bermain, dan
belajar.
* Jika kau merasa tak mampu hidup tanpa diriku,
biarkanlah aku hidup terus dalam doamu, pikiranmu, tutur katamu,
nyanyianmu, senyummu, dan perilaku baikmu.
* Jika candaku, senyumku, tawaku, diamku, marahku, nyanyianku, dan
tanganku yang selalu membelaimu telah terkurung,
yang tersisa dariku adalah doa dan harapanku untukmu.
* Jika diriku telah dipenjara entah untuk berapa lama,
percayalah, walau sedetikpun kasih setia Kristus tidak dapat
dipenjarakan.
* Jika kau telah membaca semua ini, pastilah kau ingin mengatakan
sesuatu padaku,
tetapi katakanlah itu dalam nada dan lagu damai untuk semua orang.
* Jika kau bertanya dimana aku berada, maka kujawab:
“Aku sementara mengarungi kegelapan malam untuk menggapai surya pagi
dengan tidak merasa dihianati oleh siapapun juga dan dengan tanpa
mengorbankan siapapun juga.
Anakku, relakanlah aku yang terpidana… Immanuel !
Pdt Rinaldy Damanik
Papa Nanda
Di Rumah Tahanan Negara
Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia – Jakarta.
SURAT SEORANG NANDA
==============
Sangat sedih itu pasti. Betapa tidak, papaku dipenjara cukup lama. Jika
ada seseorang yang bertanya padaku, mengapa beliau dipenjara, aku jadi
bingung. Yang kutahu selama ini ia hanya mengevakuasi pengungsi korban
kerusuhan. Itu sebabnya aku bingung, orang mengevakuasi kok dipenjara?
Sebenarnya aku tinggal di Jawa sejak TK sampai kelas 6 SD. Papa
memenuhi sebuah panggilan untuk melayani di Sulawesi. Tak lama kemudian
kerusuhan meletus. Papa terjun menolong korban kerusuhan lewat Crisis Centre
hingga harus berpisah denganku dan mama selama 3 tahun.
Aku tahu perpisahan yang lama itu karena panggilan yang harus Papa
jawab dari Tuhan. Dia adalah seorang pendeta yang baik dan penuh perhatian
terhadap sesamanya. Dia seorang suami yang baik. Dan yang terutama
bagiku adalah, dia adalah seorang ayah yang baik. Papaku memang memberikan
didikan yang keras padaku sejak kecil. Tapi aku tahu, itu semua demi
kebaikanku dan karena dia menyayangiku. Oleh karena itu aku merasa sangat
kehilangan dia.
Aku telah ditinggal mati oleh adik laki-lakiku pada tahun 1998. Ia
masih kecil waktu itu. Itu adalah saat yang sangat tak terlupakan dan
sangat menyakitkan. Aku dan mama menyusul Papa di Poso setelah 3 tahun
berpisah. Tapi kami jarang berkumpul, karena papa sibuk mengurusi korban
kerusuhan. Tapi itupun juga tak lama. Papa mendapat panggilan dari polisi
atas tuduhan membawa senjata, padahal ia hanya mengevakuasi korban
kerusuhan. Tak lama helikopter datang di kotaku. Helikopter itu datang
untuk menangkap papa. Massa dalam jumlah sangat besar berkumpul berusaha
mencegah penangkapan itu. Aku melihat mama menangis. Lalu papa
mendekatiku dan berkata,”Kalau papa jadi ditangkap, Nanda harus belajar yang
baik, ya!” Untung helikopter itu tidak jadi turun. Papaku makin terancam.
Ia akan dibunuh.
Pihak kepolisian menyatakan bahwa kehadiran papa diperlukan untuk
menjadi saksi. Sehingga suatu saat papa memutuskan untuk pergi menyerahkan
diri sebagai saksi, karena dia tak bersalah. Maksudnya agar masalah
diperjelas. Pada saat itu malam hari dan aku sedang tertidur. Saat itulah
papa memutuskan untuk pergi. Aku setengah sadar waktu papa pamit. Aku
melihat mama menangis.
Sampai di tengah jalan, mobil yang ditumpangi papa dan teman-temannya
ditahan oleh massa. Mereka tidak menghendaki papa pergi. Kepergian papa
tertunda sampai besoknya. Pagi-pagi papa pergi. Aku jatuh sakit. Saat
sakit itulah papa mengirim puisi yang ditulisnya di penjara Mabes Polri
Jakarta. Karena panggilan sebagai saksi, tanggal 10 September 2002 papa
datang memenuhi panggilan itu ke Mabes Polri Jakarta. Tanggal 11
September 2002 papa langsung ditahan dan statusnya berubah menjadi tersangka
pembawa senjata api yang jelas tidak dilakukannya. Rupanya pemanggilan
dengan status saksi hanyalah pancingan.
Kasihan papa. Ia difitnah dan dipenjara. Aku dan mama harus tinggal
bersembunyi dari satu kota ke kota lain untuk berlindung dari teror. Namun
akhirnya mama memutuskan untuk kembali ke Tentena. Hanya Tuhan tempat
kami berlindung dan apapun resikonya harus kami hadapi. Akhirnya berkas
kasus papa dilimpahkan ke kepolisian Palu.
Tanggal 22 Desember 2002 ia di bawa ke Palu. Papa adalah orang yang
teguh dalam pendiriannya. Ia tidak mau diajak kompromi untuk menjual
kebenaran. Hingga suatu hari di penjara, papa keracunan. Baru beberapa suap
nasi masuk ke perutnya, ia sekarat. Ia hampir mati. Ia berak darah
selama tiga hari dan lidahnya memutih. Melihat tanda-tanda keracunannya
mama sangat yakin bahwa papa sengaja diracun. Kasihan benar papa.
Dari balik terali besi, papa mendukungku untuk menyelesaikan rekaman
album lagu rohaniku berjudul Damaikan Tanah Poso. Salah satu laguku
berjudul Papa kupersembahkan untuknya. Semua hasil penjualan kasetku ini
kami gunakan untuk membantu keperluan proses persidangan papa. Sekarang
aku telah menelurkan album kedua yang bercerita sama seputar harapan
perdamaian di Poso.
Selama masa persidangan di kota Palu papa sempat jatuh sakit dan
dilarikan ke rumah sakit. Beberapa waktu lalu vonis telah dijatuhkan pada
papa atas tuduhan membawa senjata api dan papa dijatuhi hukuman penjara 3
tahun. Saat putusan dijatuhkan, masyarakat Tentena akan melaksanakan
demonstrasi massal. Tapi dengan bijaksana papa menghimbau mereka untuk
tenang. Mungkin papa berencana untuk naik banding. Aku yakin Tuhan akan
menunjukkan keadilan di tengah-tengah ketidakadilan pemerintahan di
negaraku ini. Yang kami perlukan sekarang adalah dukungan doa
saudara-saudari seiman di seluruh dunia.
Terima kasih atas surat-surat yang telah dikirimkan pada papa di
penjara dan kepada Nanda yang ditulis oleh saudara-saudari seiman di seluruh
Indonesia dan luar negeri lewat SuaraMartir dan juga surat-surat
dukungan lewat kedutaan Indonesia di seluruh dunia. Itu sangat menguatkan
kami. Tuhan memberkati.
WAWANCARA DENGAN NANDA (wawancara via telepon)
==============
Apa yang mendorong kamu hingga rekaman lagu 2 album?
*** Itu adalah kerinduan hatiku untuk menyuarakan isi hati melalui
talenta yang Tuhan berikan. Aku sudah punya dua album rekaman.
Apa kamu sendiri yang menulis syair-syair dalam kasetmu dalam album
volume 1 (SM belum mendengarkan volume 2)?
*** Hanya lagu yang berjudul “Papa” yang aku buat sendiri syairnya.
Ayahmu mengevakuasi korban kerusuhan di Poso, apa pendapatmu tentang
tindakan ayahmu ini?
*** Itu tindakan yang luar biasa karena berani menolong korban
kerusuhan. Jangankan menolong korban kerusuhan, orang pergi ke daerah konflik
Poso saja tidak akan berani (taruhannya mati). Aku rasa itu panggilan
Tuhan. Aku mendukung sekali atas tindakan Papa ini.
Papamu ditangkap dan difitnah, bagaimana perasaanmu?
*** Aku merasa jengkel karena saya tahu itu tidak benar bahwa Papa
membawa senjata api. Aku selalu berdoa tiap malam untuk Papa supaya ia kuat
dan sabar menerima setiap fitnahan itu. Papa banyak mengurusi korban
kerusuhan dan para pengungsi dan merasa sayang sama mereka sehingga papa
pun menginginkan Nanda juga memberi perhatian pada mereka.
Bagaimana perasaan Nanda menyaksikan korban kerusuhan?
*** Aku pasti sedih karena membayangkan bagaimana jika itu aku yang
mengalami. Ada juga teman-teman pengungsi yang sekelas dengan aku. Aku
juga punya teman yang orang tuanya mati dalam kerusuhan.
Sekarang kamu kelas berapa?
*** Aku kelas 1 SLTP.
Pelajaran apa yang paling kamu sukai?
***Matematika, karena mengasyikkan.
Apa kamu menghadapi kesulitan dalam belajar pada saat ayahmu dipenjara?
***Aku tidak mengalami kesulitan dalam belajar. Aku cuma mengalami ada
perbedaan. Kalo ada papa aku sering minta bantuannya jika ada pelajaran
yang sulit. Papa orangnya tegas dan disiplin. Papa juga suka memarahi
aku karena terkadang aku sedikit nakal. Tapi papa adalah orang yang
penuh perhatian.
Apa yang ingin kamu lakukan ketika kamu dewasa nanti?
***Aku ingin menjadi seorang humanitarian seperti Papa. Melayani semua
orang yang membutuhkan pertolongan. Aku ingin menjadi humanitarian
karena aku melihat kondisi orang-orang disekitarku memprihatinkan, apalagi
kondisi negaraku kacau sekali.
Apa kamu mempunyai ayat yang menjadi kesukaanmu di Alkitab? Mengapa?
***Yesaya 41:10. “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau,
janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan
menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang
membawa kemenangan.”
Kegiatan apa saja yang kamu lakukan di luar kegiatan sekolah?
*** Aku berkeliling menyanyi di gereja-gereja pengungsian setiap hari
Minggu untuk menghibur dan menguatkan iman mereka.
Apa yang kamu lakukan untuk membantu ibumu?
*** Karena aku masih sekolah, aku belajar dengan baik dan berusaha
memperoleh nilai yang baik.
Apa kamu melihat bahwa Tuhan peduli dalam kehidupanmu?
*** Tuhan selalu peduli dalam kehidupanku karena Tuhan selalu membuka
jalan setiap kali aku dan keluargamu menghadapi masalah.
Di masa-masa kamu merasa takut, apa yang kamu lakukan untuk membuat
damaimu kembali?
*** Aku membaca Alkitab, khususnya ayat Yesaya 41:10
Doa apa yang kamu ingin minta dari keluarga-keluarga di Amerika bagi
kamu dan keluargamu?
*** Aku berharap agar aku sukses dalam pelajaran dan masa remajaku
bersinar bagi banyak orang. Aku juga berharap agar mama sabar dan kuat
imannya menghadapi tantangan ini. Untuk papa, aku ingin agar ia tetap kuat
menghadapi fitnahan.
Apakah ada hal-hal lain yang ingin kamu sampaikan pada teman-teman di
seluruh dunia ?
*** Pedulilah pada teman-temanmu yang dalam kesusahan. Selama engkau
memiliki kesempatan untuk sekolah, belajarlah yang baik. Tolong doakan
negaraku.
Bagaimana jika teman-teman lainnya menghadapi hal yang serupa dengan
Nanda dan anak-anak pengungsian?
*** Bergantunglah pada Tuhan.
KISAH DIBALIK SEPOTONG PISANG GORENG
==============
Ini kisah nyata yang benar terjadi. Meskipun sudah terjadi beberapa
tahun yang lalu, kisah ini menjadi kisah turun menurun di kalangan
Mahasiswa Sekolah Alkitab Lawang – Jawa Timur.
Aturan yang sgt ketat di asrama membuat uang menjadi tidak bernilai di
sekolah tersebut. Mereka tidak diijinkan membeli makanan di luar kampus
kecuali bila dikirim atau diberi oleh jemaat. Banyak mahasiswa yang
menggunakan waktu diantara jam penginjilan dan visitasi untuk mampir ke
warung terdekat untuk sekedar membeli bakso, soto atau minum es.
Dari sekian banyak jemaat yang mereka layani ada seorang nenek tua
bernama mbah Ginuk, meski umurnya udah lebih dari 70 tahun, ia hidup
sebatang kara tanpa sanak saudara dan harus bekerja sebagai tukang cuci
seminggu dua kali dengan gaji Rp. 1,000,- per kunjungan. Setiap seminggu
sekali ia selalu memberikan 15 ptg pisang goreng untuk bekal bagi
mahasiswa yang sedang praktek penginjilan di desanya sebagai bekal untuk dibawa
ke asrama. Pada mulanya, para mahasiswa menganggap ini suatu pemberian
yang menyenangkan dan mereka tidak pernah memikirkan apa yang terjadi
dengan si pemberi berkat itu. Hingga suatu hari mereka mendapat kabar
kalau mbah Ginuk meninggal dunia karena sakit.
Seminggu setelah mbah Ginuk dikubur, ketika para mahasiswa sdg
melakukan praktek penginjilan di desa itu mereka berpikir bahwa tidak akan ada
lagi orang yang memberi mereka makanan. Ternyata, salah satu penduduk
desa tersebut datang menghampiri mereka sambil menyerahkan bungkusan
berisi 15 ptg pisang goreng untuk dibawa pulang. Usut punya usut, ternyata
mbah Ginuk sebelum meninggal telah menitipkan sejumlah uang ke penjual
pisang goreng tersebut. Sejak saat itu mereka menyadari betapa mulianya
persembahan yang dilakukan oleh mbah Ginuk bahkan sebelum mati pun ia
masih tetap memikirkan “memberi” untuk orang lain.
Cerita tersebut bisa menjadi cermin bagi kita :
1. Kalau kita memberi dari kelebihan kita itu suatu hal yang biasa,
tapi belajarlah memberi dari kekurangan kita dan kita akan melihat
betapa pemberian kita bisa menjadi berkat yang besar bagi orang lain.
2. Tuhan lebih menghargai pemberian dalam jumlah kecil yang mungkin
juga tidak berarti di mata manusia ( cuma pisang goreng ) tapi
diberikan dengan hati tulus ikhlas daripada persembahan mewah yang diberikan
dengan pamrih.
3. Ingatlah bahwa kalau kita memberi pada sesama yang membutuhkan,
berarti kita memberi pada Tuhan yang menciptakan manusia.
4. Belajarlah memberi dari kekurangan kita, dan kita akan mengetahui
bahwa Tuhan yang kita sembah itu bukan Allah yang suka ingkar janji.
Tuhan akan memberkati kita dengan berlipat kali ganda sesuai dengan
janjiNya bahkan tingkap – tingkap langit akan dibukakan bagi kita yang
percaya
kepadaNya.
5. Ingatlah pada hukum Tabur-Tuai, apa yang engkau tabur di masa
sekarang itulah yang kelak akan engkau tuai di masa mendatang.
Bersepeda Bersama Yesus
Pada awalnya, aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat; seorang hakim
yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku
akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku
mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui
gambar-gambar-Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya.
Ketika aku bertemu Yesus, pandanganku berubah. Hidupku menjadi bagaikan
sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku
tahu bahwa Yesus duduk di belakang, membantu aku mengayuh pedal sepeda.
Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar tempat, tetapi sejak
itu hidupku jadi berubah. Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya.
Terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi … biasanya, hal itu
tak
berlangsung lama. Tetapi, saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan
yang panjang dan menyenangkan. Ia membawaku mendaki gunung, juga melewati
batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan. Saat-saat
seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku sepenuhnya pada-Nya!
Terkadang rasanya seperti sesuatu yang ‘gila’, tetapi Ia berkata, “Ayo,
kayuh terus pedalnya!”
Aku takut, khawatir dan bertanya, “Aku mau dibawa ke mana?” Yesus tertawa
dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya. Aku melupakan kehidupan
yang membosankan dan memasuki suatu petualangan baru yang mencengangkan.
Dan ketika aku berkata, “Aku takut!” Yesus menurunkan kecepatan, mengayuh
santai sambil menggenggam tanganku.
Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku
perlukan … orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku
dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku
perlukan
untuk melanjutkan perjalanan … perjalananku bersama Tuhanku. Lalu, kami
pun kembali mengayuh sepeda kami.
Kemudian, Yesus berkata, “Berikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang
yang
membutuhkannya; jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi beban bagi
kita.” Maka, aku pun melakukannya. Aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu
kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka. Aku belajar
bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan.
Pada mulanya, aku tidak ingin mempercayakan hidupku sepenuhnya kepadaNya.
Aku
takut Ia menjadikan hidupku berantakan; tetapi Yesus tahu rahasia mengayuh
sepeda. Ia tahu bagaimana menikung di tikungan tajam, Ia tahu bagaimana
melompati batu karang yang tinggi, Ia tahu bagaimana terbang untuk
mempercepat melewati tempat-tempat yang menakutkan. Aku belajar untuk diam
sementara terus mengayuh … menikmati pemandangan dan semilir angin
sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama Sahabatku yang
setia: Yesus Kristus.
Dan ketika aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan, Yesus akan
tersenyum dan berkata … “Mengayuhlah terus, Aku bersamamu.”
Pencuri Yang Diubah
GEORGE MÜLLER
Tukang pajak berbangsa Prusia yang berwajah kejam itu berhadapan muka dengan puteranya yang berusia sepuluh tahun, “Kamu telah mengambil uang yang bukan milikmu, George.”
Anak itu menggeliat-geliat di bawah pandangan ayahnya. “Tidak, Ayah,” ia menggagap, “saya tidak mengambil uang.”
“Sekali ini aku memasang sebuah perangkap,” si ayah menjelaskan. “Aku kira kamu telah mencuri uang dari pajak pungutanku, saat itu aku menghitung sejumlah uang dan kemudian menaruhnya di ruangan ini. Sebagian dari uang itu telah hilang. Nah, kucing tidak mungkin mengambilnya.”
“Ayah keliru,” anak itu memohon.
“Aku tidak keliru. Jika kamu tidak mengakuinya, aku harus menggeledahmu.”
Tukang pajak itu menggeledah saku anaknya dan tidak menemukan apa-apa. George tersenyum sendiri.
“Sekarang buka sepatumu,” ayahnya memerintahkan.
“Kaki saya sakit. Kalau dibuka nanti sakit.”
“Aku katakan, buka.”
Anak itu dengan segan membuka sepatunya.
“Sekarang berikan sepatu itu kepadaku.”
Anak itu menurut. Senyuman itu samar-samar lenyap dari wajahnya.
“Ah, ini dia. Sekarang, pergilah ke gudang.”
“Tetapi, saya minta maaf, Ayah. Saya berjanji tidak akan mencuri lagi.”
George Müller menerima hukumannya. Tetapi ia mencuri lagi, mencuri lagi, mencuri lagi – sampai akhirnya hidupnya diubah oleh Kristus.
Ibunya meninggal ketika ia berumur empat belas tahun dan waktu itu ia sedang bersekolah. Pada malam ketika ibunya meninggal, dengan tidak sadar akan penyakit ibunya, George sedang bermain kartu. Hari Minggu, keesokan harinya, ia menghabiskan waktunya bersama-sama dengan beberapa temannya di sebuah kedai minuman.
Tidak berapa lama kemudian ia dibaptiskan di sebuah gereja Lutheran. Ayahnya telah memberinya uang yang banyak untuk membayar gembala jemaatnya. Tetapi George yang licik itu memberi gembala jemaat itu hanya seperduabelas dari jumlah uang itu.
“Saya akan berlaku lebih baik,” ia berjanji kepada dirinya sendiri pada saat itu ia mengikuti kebaktian. Tetapi keputusannya itu sia-sia saja.
Tahun berikutnya, ayahnya dipindahkan ke kota Schoenebeck, Prusia. Ia meninggalkan George sendirian di rumahnya yang lama agar mengawasi perbaikan-perbaikan rumahnya dan belajar dengan seorang pendeta, karena George telah membuat keputusan untuk belajar menjadi pendeta. Tetapi ketika tukang pajak itu pergi. George sibuk dengan pekerjaannya yang lain. Ia mengumpulkan uang orang-orang di desanya yang berutang kepada ayahnya, lalu ia melakukan perjalanan yang
kemudian ia sebut “dosa enam hari.”
Ketika uangnya telah habis, ia pindah ke hotel yang mahal, menginap seminggu, kemudian lari tanpa membayar ongkos-ongkosnya. Ia pindah ke hotel lain, menginap dan bersenang-senang seminggu lamanya, lalu bersiap-siap untuk melarikan diri melalui sebuah jendela. Namun kali ini ia tertangkap. Pada umur enam belas tahun anak tukang pajak itu dipenjara selama dua puluh empat hari.
Setelah ayahnya memberikan uang jaminan untuknya, ia bersekolah di Nordhausen, Prusia. Untuk menyenangkan hati gurunya ia belajar dari jam empat pagi sampai jam sepuluh malam. Gurunya memujinya di kelas sebagai seorang pemuda dengan harapan yang baik dalam pelayanan kependetaan. Walaupun demikian George Müller terus-menerus bermabuk-mabukan dan berfoya-foya. Ia merasa bersalah pada saat ia turut ambil bagian dalam perjamuan Tuhan. “Tetapi satu atau dua hari setelah ikut serta dalam perjamuan Tuhan itu, saya berlaku sama jahatnya seperti sebelumnya,” ia menulis dalam catatan hariannya.
Ketika ia berumur dua puluh tahun, ia dianjurkan belajar di Universitas Halle serta diberi hak untuk berkhotbah. Ketika di Halle inilah ia menyadari bahwa ia harus memperbaiki diri seandainya saja ada sebuah jemaat yang memilih dia sebagai gembala jemaatnya. Pada waktu itu ia menganggap pelayanan kependetaan semata-mata sebagai suatu mata pencaharian yang baik, bukan sebagai suatu pelayanan
kepada orang-orang yang memerlukan pertolongan.
Ia bertemu dengan seorang teman mahasiswa, bernama Beta yang hidup sebagai orang Kristen yang patut dicontoh. George memilih Beta sebagai teman dekatnya, dengan berpikir bahwa ia memperbaiki hidupnya dengan seorang teman Kristen.
Tetapi Beta itu seorang Kristen yang kembali berbuat jahat dan ia bersahabat dengan George hanya karena ia mengira George akan membawanya kepada kesenangan-kesenangan yang lebih banyak.
Dalam bulan Agustus tahun 1825, George Müller, Beta dan dua orang mahasiswa lainnya menggadaikan sebagian milik mereka untuk memperoleh cukup banyak uang untuk bepergian selama beberapa hari. Ketika seorang dari mahasiswa-mahasiswa itu mengusulkan pergi ke Swiss, George yang licik itu sudah mempunyai suatu rencana. Ia hanya duduk saja dan memalsukan surat-surat penting yang diperlukan dari orang tuanya untuk mendapatkan paspor.
Dalam perjalanan itu George menjadi bendahara. Karena ia memang suka mencuri, ia menyelewengkan uang itu supaya teman-temannya membayar sebagian dari ongkos-ongkosnya.
Ketika mereka kembali ke universitas, Beta sangat menyesal dan ia mengakui segala dosanya kepada ayahnya. Kemudian ia mengundang George untuk menghadiri suatu persekutuan doa di rumah seorang teman. Mereka pergi bersama. “Saya belum pernah sebelumnya melihat seorang berdoa berlutut,” demikianlah komentar George, yang kemudian menjadi seorang yang terkenal di dunia karena kuasa doanya.
George merasa canggung di dalam persekutuan itu, karena suasananya yang aneh. Ia bahkan meminta maaf atas kehadirannya di sana.
“Datanglah sering-sering; pintu dan hati kami terbuka bagi Saudara,” tuan rumah itu mengundangnya dengan senang hati.
Setelah dua lagu pujian, satu pasal dari Alkitab dibacakan. Kemudian lagu pujian lainnya dan pada saat tuan rumah itu berdoa, suatu perasaan sukacita dan damai timbul dalam hari George Müller. Dalam perjalanan pulang, dengan penuh kegembiraan ia berkata kepada Beta, “Segala kesenangan kita yang dulu itu tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang kita alami malam ini.”
Kristus telah menyentuh hati George Müller di persekutuan doa itu dan sejak saat itu ia menjalani kehidupan yang telah diubah.
Kemudian ia pindah ke Inggris, di mana ia menjadi terkenal sebagai orang yang beriman. Ia mendirikan lima buah Panti Asuhan di Bristol yang dapat menampung dua ribu orang anak. Selama hidupnya ia mengurus 9975 orang anak yatim piatu dan menerima lima puluh ribu jawaban khusus bagi doanya.
Inilah kisah orang yang tidak pernah melihat seorang Kristen berdoa berlutut sampai ia berusia dua puluh satu tahun.
Ijinkan aku mencium mu
Dear Friends,
Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya.
Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai
dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku “dipaksa”
membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun.
Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengijinkanku bermain sebelum semua
pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya
sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tak jarang aku
merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali
mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.
Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua.
Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari
anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa
kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang
baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.
Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang
mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Aku tak peduli dengan
setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya,
atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu, yang
penting aku senang ia menungguku sampai bel berbunyi.
Kini setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain
bersama teman-teman bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia
sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah.
Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan
rumah tangga. Di usiaku yang menginjak remaja, aku sering merasa malu
berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas
tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku
sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter di depannya agar orang
tak menyangka aku sedang bersamanya.
Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah
memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru,
apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang
bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di
tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia
yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku
berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di
kaki dan mendekapku erat-erat saat aku mengangis.
Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan
tinggi, aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar,
cerdas, dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh,
tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa, hingga kemudian
komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas
permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.
Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak
berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas
yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski ibu bukan orang
berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya
jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu ibu, aku tak akan pernah
menjadi aku yang sekarang.
Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia
tunjukan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia
baru itu.
Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari
keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat
aku bersimpuh di kakinya, saat itulah aku menyadari ia juga yang
pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke
dunia ini.
Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah
lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi
istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku
membunuh kerinduanku pada ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai
anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak
lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu.
Aku akan datang dan
menciummu ibu,
meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku
Send by: Andoko Setiadi
Datanglah Sebagaimana Adanya
Warta fa
==============
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dalam ketidak-percayaan. Tidak mungkin ini tempatnya. Sebenarnya, tidak mungkin aku diterima di sini. Aku sudah diberi undangan beberapa kali, oleh beberapa orang yang berbeda, dan baru akhirnya memutuskan untuk melihat tempatnya seperti apa sih. Tapi, tidak mungkin ini tempatnya. Dengan cepat, aku melihat pada undangan yang ada di genggamanku. Aku memeriksa dengan teliti kata-katanya,”Datanglah sebagaimana adanya kamu. Tidak perlu ditutup-tutupi,” dan menemukan lokasinya.
Ya… aku berada di tempat yang benar. Aku mengintip lewat jendelanya sekali lagi dan melihat sebuah ruangan yang penuh dengan orang-orang yang dari wajahnya terpancar sukacita. Semuanya berpakaian rapi, diperindah dengan pakaian yang bagus dan terlihat bersih seperti kalau mereka makan di restoran yang bagus. Dengan perasaan malu, aku memandang pada pakaianku yang buruk dan compang camping, penuh dengan noda. Aku kotor, bahkan menjijikan. Bau yang busuk ada padaku dan aku tidak dapat membuang kotoran yang melekat pada tubuhku. Ketika aku akan berputar untuk meninggal kan tempat itu, kata-kata dari undangan tersebut seakan-akan meloncat keluar, “Datanglah sebagaimana kamu adanya. Tidak perlu ditutup-tutupi.”
Aku memutuskan untuk mencobanya. Dengan mengerahkan semua keberanianku, aku membuka pintu restoran dan berjalan ke arah laki-laki yang berdiri di belakang panggung.
“Nama Anda, Tuan ?” ia bertanya kepadaku dengan senyuman.
“Daniel F. Renken,” kataku bergumam tanpa berani melihat ke atas. Aku memasukkan tanganku ke kantongku dalam-dalam, berharap untuk dapat menyembunyikan noda-nodanya.
Ia sepertinya tidak menyadari kotoran yang berusaha aku sembunyikan dan ia melanjutkan, “Baik, Tuan. Sebuah meja sudah dipesan atas nama Anda. Anda mau duduk ?”
Aku tidak percaya atas apa yang aku dengar! Aku tersenyum dan berkata,
“Ya, tentu saja!”
Ia mengantarkanku ke sebuah meja dan, cukup yakin, ada plakat dengan
namaku tertera dengan tulisan tebal merah tua.
Ketika aku membaca-baca menunya, aku melihat berbagai macam hal-hal
yang menyenangkan tertera di sana. Hal-hal tersebut seperti “damai”,
“sukacita”, “berkat”, “kepercayaan diri”, “keyakinan”, “pengharapan”, “cinta
kasih”, “kesetiaan”, dan “pengampunan”. Aku sadar bahwa ini bukan
restoran biasa ! Aku mengembalikan menunya ke depan untuk melihat tempat di
mana aku berada. “Kemurahan Tuhan,” adalah nama dari tempat ini !
Laki-laki tadi kembali dan berkata,”Aku merekomendasikan sajian spesial
hari ini. Dengan memilih spesial menu hari ini, Anda berhak untuk
mendapatkan semua yang ada di menu ini.”
Kamu pasti bercanda! pikirku dalam hati. Maksudmu, aku bisa mendapat
SEMUA yang ada dalam menu ini ?
“Apa menu spesial hari ini ?” aku bertanya dengan penuh kegembiraan.
“Keselamatan,” jawabnya.
“Aku ambil,” jawabku spontan. Kemudian, secepat aku membuat keputusan
itu, kegembiraan meninggalkan tubuhku. Sakit dan penderitaan merenggut
lewat perutku dan air mata memenuhi mataku. Dengan menangis tersedu
sedan, aku berkata, “Tuan, lihatlah diriku. Aku ini kotor dan hina. Aku
tidak bersih dan tidak berharga. Aku ingin mendapat semuanya ini, tapi aku
tidak dapat membelinya.”
Dengan berani, laki-laki itu tersenyum lagi. “Tuan, Anda sudah dibayar
oleh laki-laki di sebelah sana,” katanya sambil menunjuk pintu masuk
ruangan. “Namanya Yesus.”
Aku berbalik, aku melihat seorang laki-laki yang kehadirannya membuat
terang seluruh ruangan itu. Aku melangkah maju ke arah laki-laki itu,
dan dengan suara gemetar aku berbisik,”Tuan, aku akan mencuci
piring-piring atau membersihkan lantai atau mengeluarkan sampah. Aku akan
melakukan apa pun yang bisa aku lakukan untuk membayarMu kembali atas semuanya
ini.”
Ia membuka tangannya dan berkata dengan senyuman,”Anakku, semuanya ini
akan menjadi milikmu, cukup hanya bila kamu datang kepadaKu. Mintalah
padaKu untuk membersihkanmu dan Aku akan melakukannya. Mintalah padaKu
untuk membuang noda-noda itu dan itu terlaksana. Mintalah padaKu untuk
mengijinkanmu makan di mejaKu dan kamu akan makan.
Ingat, meja ini dipesan atas namamu. Yang bisa kamu lakukan hanyalah
MENERIMA pemberian yang sudah Aku tawarkan kepadamu.”
Dengan kagum dan takjub, aku terjatuh di kakiNya dan berkata,”Tolong,
Yesus. Tolong bersihkan hidupku. Tolong ubahkan aku, ijinkan aku duduk
di mejaMu dan berikan padaku sebuah hidup yang baru.”
Dengan segera aku mendengar, “Sudah terlaksana.”
Aku melihat pakaian putih menghiasi tubuhku yang sudah bersih. Sesuatu
yang aneh dan indah terjadi. Aku merasa seperti baru, seperti sebuah
beban sudah terangkat dan aku mendapatkan diriku duduk di mejaNya.
Menu spesial hari ini sudah dipesan,” kata Tuhan kepadaku. “Keselamatan
menjadi milikmu.”
Kami duduk dan bercakap-cakap untuk beberapa waktu lamanya dan aku
sangat menikmati waktu yang kuluangkan denganNya. Ia berkata kepadaku,
kepadaku dan kepada semua orang, bahwa Ia ingin aku kembali sesering aku
ingin bantuan lain dari kemurahan Tuhan. Dengan jelas Ia ingin aku
meluangkan waktuku sebanyak mungkin denganNya.
Ketika waktu sudah dekat bagiku untuk kembali ke ‘dunia nyata’, Ia
berbisik padaku dengan lembut, “Dan Daniel, AKU MENYERTAI KAMU SELALU.” Dan
kemudian, Ia berkata sesuatu yang tidak akan pernah aku lupakan. Ia
berkata, “Anakku, lihatkah kamu beberapa meja yang kosong di seluruh
ruangan ini ?”
“Ya, Tuhan. Aku melihatnya. Apa artinya?” jawabku.
“Ini adalah meja-meja yang dipesan, tapi tiap-tiap individu yang
namanya tertera di tiap plakat ini belum menerima undangan untuk makan.
Maukah kamu membagikan undangan-undangan ini untuk mereka yang belum
bergabung dengan kita?” Yesus bertanya.
“Tentu saja,” kataku dengan kegembiraan dan memungut undangan
tersebut.
“Pergilah ke seluruh bangsa,” Ia berkata ketika aku pergi meninggalkan
restoran tersebut.
Aku berjalan masuk ke “Kemurahan Tuhan” dalam keadaan kotor dan lapar.
Ternoda oleh dosa. Asalku bagai kain tua yang kotor. Dan Yesus
membersihkanku. Aku berjalan keluar seperti orang yang baru… berbaju putih,
seperti Dia. Dan, aku menepati janjiku pada Tuhanku.
Aku akan pergi.
Aku akan menyebarkan luaskan perkataanNya.
Aku akan memberitakan Injil …
Aku akan membagikan undangan-undangannya.
Dan aku akan memulainya dengan kamu. Pernahkah kamu pergi ke restoran
“Kemurahan Tuhan?” Ada sebuah meja yang dipesan atas namamu, dan inilah
undangan untukmu.. “DATANGLAH SEBAGAIMANA KAMU ADANYA. TIDAK PERLU DITUTUP-TUTUPI.”
Yesusku Luar Biasa.
Tadi pagi dlm perjalanan ke kantor aku dengerin radio Sangkakala di mobil.
Ada kesaksian Pdt Hendra mengenai seorang temannya kesaksiannya cukup unik.
Pdt Hendra crita soal temanya yg pengangguran, jebolan sales di pabrik kompor.
Dulu selama 18 tahun kerjanya keliling nawar2in kompor Sudah sebulan dia menganggur, & sudah banyak surat lamaran kerja yg dia buat, tapi belum pernah ada panggilan.
Sampai akhirnya dia nyaris frustasi, dia bikin satu surat lamaran terakhir, tidak tanggung2, ada lowongan sebagai Marketing Mgr, Personalia Mgr, & Branch Manager u. suatu cabang perusahaan asing(Jepang) yg akan dibuka di Bali dia melamar sebagai Branch manager !!! dia pasrah total sama Tuhan. & dia minta bantu Pdt Hendra ikut doakan.
Pdt Hendra sendiri yg mendoakan, sebenarnya merasa gak yakin juga tapi dia tetep ikut doakan
Beberapa hari kemudian, muncul surat undangan test. si salesman kompor ini sudah begitu bahagia bisa dipanggil, dia sudah sujud syukur sama Tuhan. Waktu datang ketempat test, dia baru sadar bahwa yg datang hari itu untuk test tiga lowongan tsb, sebanyak 460 orang!!! (tidak tahu berapa banyak dari 460 peserta ini yg akan ikutan test Branch Manager).
Waktu menunggu, dia mulai tanya2 kanan kiri ternyata banyak sekali yg ikutan test Branch Managerrata2 lulusan sarjana, ada yg pengalaman di nestle, dll.
Trus dia tanya2, pengujinya ternyata orang Jepang & testnya pake bahasa campuran, Bhs Indonesia & Bhs Inggris sementara dia sendiri, dia cuma jebolan sales kompor, & lulusannya cuma SMA!!!
bahasa Inggris juga sangat terbatas!!!
Dia begitu gelisah, dia bilang ke Pdt Hendra (mungkin by phone), dia maupulang saja dia rasa tidak mungkin dia maju test. dia merasa tidak sanggup bersaing. tidak sanggup menanggung malu, competitornya begitu kelihatan hebat2 semua!!!. tapi Pdt Hendra membesarkan hatinya, menyuruhnya tetap ikutan test, dgn tidak lupa terus berserah pada Tuhan (disertai joke u menenangkan : kalau ditanya bahasa Inggris Anda bingung, ya jawab aja pake bahasa roh.) Pas jam 12 siang, seharusnya dia giliran maju, tapi pas jam istirahat. dia diberitahu akan dipanggil nanti jam 1. Di saat peserta2 lain pergi beristirahat, dia putuskan waktu satu jam itu bukan buat pulang, tapi buat doa, nyanyikan puji2an, & doa dgn bahasa roh.
Akhirnya saatnya tiba. dia dipanggil masuk dia masuk dengan hati yg sangat gelisah lalu dia tengking ketakutan & kegelisahannya. Saat itu (pas dia baru pegang handle pintu mau menutup pintu ruangan) tiba2 dia dengar suara Tuhan Tuhan suruh dia beri hormat cara karate!!!! ( salesman kompor ini juga guru karate yg mengajar para marinir, & dia sudah DAN 2)
Dia bingung setengah mati. mau wawancara pekerjaan,kok Tuhan suruh kasih hormat cara karate???. tapi dia nekat ikuti saja pesan Tuhan dia berdiri lurus menghadap si Jepang, trus membungkukkan badan sambil teriak bahasa Jepang yg biasa sbg bahasa penghormatan di karate!!!
Gak taunya ini si Jepang tiba2 ikutan berdiri & membungkuk memberi hormat yg sama (cara karate). dgn teriakan yg sama pula!!!.
Lalu terjadi tanya jawab, si Jepang ini bukannya mewawancarai CV nya, tapi malah tanya2 soal background karate dari si salesman ini. Dan si Jepang ngajak tanding di situ!!!.
Si salesman bisa mengatasi semua serangan si Jepang, akhirnya si Jepang nyerah ternyata si Jepang ini karateka sabuk hitam, tapi belum punya DAN, sementara si salesman sudah DAN 2!!!
Lalu si Jepang tanya : “Anda melamar sebagai apa?” dijawab “Sebagai Branch Manager”
Kemudian tanpa basa basi lagi, si Jepang bilang kepada staffnya di luar “Lowongan untuk Branch Manager sudah ditutup, krn saya sudah dapatkan orangnya yg saya pilih jadi Branch Manager!!!
Pdt Hendra menutup cerita kesaksiannya ini dengan ulasan : Tidak ada sesuatu hal yang mustahil bagi Tuhan, semua masalah yang mustahil bagi manusia, adalah kecil dihadapan Tuhan. Tapi Iblis sangat senang menunjukkan pada manusia, hal2 yg mustahil, yang tidak mungkin akan bisa terjadi. Iblis senang sekali membuat manusia berpikir menurut logika manusia. bahwa hal ini tidak mungkin terjadi supaya manusia mau menyerah!!!
Tapi kalau kita mau mengandalkan Tuhan., mau berjalan dalam bimbingan Roh Kudus maka semua hal BISA terjadi!!!
Amin
GOD BLESS YOU ALL










[...] kebetulan perlu ditolong saat operasi evakuasi. Ia juga adalah (more…) [...]
Tulisan yang menarik. Terima kasih sudah berbagi informasi. Jika ingin tahu lebih banyak lagi tentang Cinta, silakan baca artikel Butir-Butir Cinta di blog saya. Salam kenal, sobat.
Lex dePraxis
Romantic Renaissance
syalom
saya sedang butuh bahan renungan dari kitab yesaya 41:21-29
ada yang bisa bantu saya?
Terima kasih dan Tuhan memberkati